12/02/14

LSM dan IMG Kecam Arogansi Kades Sidorejo



LSM dan IMG Kecam Arogansi Kades Sidorejo
Rino Caroko, Aminudin Azis dan Ervan Bambang Dermanto
Wonosari, (sorotgunungkidul.com)—Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jejaring Rakyat Mandiri (Jerami) yang diketuai oleh Rino Caroko mengecam dan menyesalkan tindakan oknum Kades Sidorejo, Kecamatan Ponjong yang dianggapnya mencederai proses demokrasi dan keterbukaan pers. Menurut Rino Caroko cara yang ditempuh oleh kades baru dengan melibatkan puluhan massa tersebut tidak menunjukkan bahwa ia merupakan pamong yang baik dalam berkomunikasi.
“Bila hanya ingin konfirmasi isi pemberitaan tak usah melibatkan banyak massa, pihak pemdes dan wartawan saja menurut saya cukup. Tapi kalau dengan cara tadi siang Pemdes Sidorejo hanya memberi keterangan tanpa didasarkan data yang bisa menampik pemberitaan sebelumnya menurut saya cara yang salah, itu mencederai proses demokrasi dan keterbukaan pers. Itu sikap yang bisa dibilang arogan,” kata Rino Senin (03/02/2014).
Rino juga menyesalkan sikap-sikap pejabat yang anti kritik dan anti pemberitaan buruk. Dirinya menganggap bahwa kritik dari masyarakat baik melalui LSM maupun media merupakan kontrol yang baik bagi pemerintah dan perlu diperhatikan, sehingga pelaksanaan pemerintahan atau pembangunan bisa seimbang.
Sementara itu Ketua Lembaga Kajian Demokrasi dan Studi Sosial (LKDS) Aminudin Aziz juga menyayangkan tindakan Kades Sidorejo yang masih terbilang baru menjabat untuk periode kedua tersebut. Menurutnya, jika memang benar bahwa ada sejumlah massa disitu bahkan juga ada Muspika untuk sekedar klarifikasi justru mengundang banyak pertanyaan. Ada apa gerangan dibalik itu semua ?
“Tindakan oknum kades tersebut bisa dibilang menghalangi kerja jurnalis dan anti demokrasi. Bila memang ingin klarifikasi pemberitaan semestinya tak ada yang merasa dirugikan seperti tadi siang. Cukup tunjukkan bukti-bukti yang ada,“kata Aziz.
Tak hanya LSM, Ketua Ikatan Mahasiswa Gunungkidul (IMG),  Ervan Bambang Dermanto mengatakan bahwa tindakan yang ditunjukkan kepala desa dengan tidak bisa menunjukkan bukti-bukti, namun malah menghadirkan massa yang banyak bukan mencerminkan sebagai figur pamong yang baik.
“Saya mengecam pejabat publik yang melakukan pelurusan berita dengan cara semacam itu. Kalau dia sudah merasa benar dalam menjalankan tugas tentunya dia bisa menunjukkan bukti-bukti kuat yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan dengan cara menghimpun massa,” kata aktivis mahasiswa tersebut.
Lebih lanjut Ervan menghimbau kepada aparat penegak hukum untuk melihat substansi pemberitaan yang menjadi masalah antara koran online sorotgunungkidul.com dengan Kepala Desa Sidorejo.
"Masalahnya kan dugaan penyimpangan ? Nggak usah saling merasa benar. Kita tunggu pihak kepolisian atau kejaksaan membongkar kebenaran kasus tersebut. IMG akan mengawalnya. Jika memang harus turun ke jalan akan kita lakukan," pungkasnya.

Danais Belum Terealisasi Secara Optimal


Danais Belum Terealisasi Secara Optimal
Diskusi angkringan bersama KPH Wironegoro
Wonosari, (sorotgunungkidul.com)--Dana Keistimewaan (Danais) yang dikucurkan dari pusat pada tahun 2013 belum direalisasikan secara optimal. Alasannya ada beberapa kendala yang menyebabkan hal tersebut, salah satunya kurang lengkapnya syarat yang diajukan oleh pemohon.
Bahkan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarat (DIY) hanya mampu menyerap Danais kurang lebih 15 hingga 20 persen dari total Danais yang dikucurkan. Dan pada termin yang pertama yang sudah diterima Pemda DIY sejumlah Rp 115 milyar.
“Sedikitnya Danais yang mampu terserap disebabkan kurang pahamnya masyarakat mengakses Danais, hal itu berawal pada kesalahan dalam penyusunan proposal pengajuan Danais hingga akhirnya tak bisa terserap maksimal,” kata KPH Wironegoro seusai mengikuti diskusi angkringan malam tadi di depan Pasar Besole, Baleharjo, Senin, (28/01/2014).
Selain itu menurut Ketua Forum Keistimewaan untuk Kesejahteraan FKK DIY tersebut, dari sebanyak 250 proposal pengajuan dari empat kabupaten yaitu Gunungkidul, Bantul, Sleman, Kulonprogo dan Kota Yogyakarta, yang diajukan baru kurang lebih 15 sampai 20 persennya saja yang terserap dan sisanya belum mendapatkan acc.“Untuk yang sudah terserap ya kurang lebih baru sekitar 15-20 persen saja sisanya masih belum mendapatkan acc Pemda DIY, “ ucapnya.
Minimnya pemahaman cara akses Danais yang benar adalah menjadi salah satu pemicu minimnya penyerapan pada Danais tersebut.“Banyak sekali proposal pengajuan Danais yang salah maka dari itu banyak yang tidak disetujui oleh Pemda DIY,” paparnya.
Untuk itu sangatlah penting dilakukan sosialisasi dari tingkat daerah mulai dari kepala desa hingga kabupaten biar tidak terjadi banyaknya kesalahan lagi.“Harapannya setelah dilakukan sosialisasi dari tingkat daerah tidak akan terjadi lagi kesalahan dalam penyusunan proposal Danais pada tahun ini,” pinta KPH Wironegoro.
Aminudin Aziz Koordinator Daerah Kabupaten Gunungkidul mengatakan, pada tahun 2013 yang lalu Danais sebenarnya akan cair sejumlah Rp 231 milyar dan pada tahun 2014 ini sebesar 1,4 triliun. ”Dari jumlah dana yang ada tersebut sebanyak 80 persennya akan disalurkan untuk bidang kebudayaan, “ katanya.

Outbond SMA N 1 Wonosari Ilegal



Outbond SMA N 1 Wonosari Ilegal
Siswa mulai berdatangan di SMA N 1

Wonosari, (sorotgunungkidul.com)--Outbond yang digelar SMA N 1 Wonosari, Jumat (27/12/2013) ternyata tak berijin dari kepolisian dan tidak ada koordinasi dengan pihak pengelola Desa Wisata Jelok (Dewi Elok).
Hal ini dikeluhkan Komisaris Polisi Tri Pujo Santoso, Kapolsek Patuk, dirinya mengaku tak mendapatkan ijin pemberitahuan kegiatan,”Kami tidak mendapatkan ijin kegiatan dari pihak panitia. Padahal acaranya sendiri sampai lintas kecamatan, harusnya melakukan ijin ke Polres,” katanya saat ditemui wartawan di halaman SMA N 1 Wonosari, disela-sela menantikan kepulangan para peserta outbond.
Tri Pujo menjelaskan, untuk melakukan kegiatan outbond harusnya dilakukan survey terlebih dahulu dan melihat situasi dan kondisi alam.“ Harapannya peserta bisa memahami medan dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti saat ini,” ucapnya.
Sementara Aminudin Aziz Pengelola Desa Wisata Jelok menyayangkan kejadian ini. Pasalnya pihak dari panitia tidak ada koordinasi sebelumnya kepada pihak pengelola.”Kami sebagai pengelola sangat kecewa dengan peristiwa ini,” paparnya.
Dia juga menjelaskan, pihak panitia juga tidak menggunakan jasa pemandu dari Desa Wisata Jelok, padahal rafting (selusur sungai) yang dilakukan di Kali Oya tanpa pemandu itu sangat berbahaya.” Saya benar-benr kecewa karena secara tidak langsung pasti akan berdampak terhadap Dewi Elok,” jelasnya.
Dampak itu bisa berpengeruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap pengunjung Desa Wisata Jelok. Pasalnya seolah-olah kejadian ini kesalahan dari pihak pengelola."Padahal panitia benar-benar tidak ada koordinasi dengan pihak pengelola. Mereka hanya memberitahukan akan mengadakan acara outbond, tetapi tidak dijelaskan berapa jumlah pesertanya. Apa saja kegiatannya juga tidak dijelaskan. Tahu-tahu mereka sudah mengambil perahu karet 6 unit, pelampung beberapa buah. Itu sama sekali tidak ijin kepada kita, kemudian kejadian seperti yang tidak diinginkan ini," tegasnya.
Ditambahkan Azis, peristiwa ini terjadi lantaran tidak ada koordinasi dari panitia kepada Dewi Elok, “Yang namanya pemandu saja pukul 15.00 WIB itu sudah tidak berani menurunkan wisatawan yang ingin rafting. Sebab perhitungannya perjalanan dari bawah Jembatan Bunder hingga Dewi Elok akan memakan waktu lebih dari 3 jam. Lha mereka berani-beraninya menurunkan peserta pukul 15.00 WIB, tanpa pemandu, bahkan sebagian besar tidak bisa berenang, itu konyol namanya,” pungkasnya.

22/01/14

Susur Sungai, 38 Siswa SMAN 1 Wonosari Nyaris Hilang

WONOSARI (KRjogja.com) - Sebanyak 38 siswa SMAN 1 Wonosari nyaris hilang ketika melakukan penyusuran Sungai Oyo Bunder, Playen yang hanya dipandu salah satu guru mereka, Jumat (27/12/2013) malam. Kegiatan susur sungai tersebut tergolong nekat dan ilegal, bahkan tidak meminta bantuan pemandu Desa Wisata Jelok.

"Semuanya ditemukan dalam keadaan selamat. Susur sungai tersebut diluar dugaan, tanpa sepengetahuan pemandu dan pengelola wisata jelok," kata Aminudin Aziz Pengelola Desa Wisata Jelok, Beji, Patuk, Sabtu (28/12/2013).

Informasi di lapangan menyebutkan, awalnya siswa tersebut hanya menggelar kegiatan 'outbond' di kawasan Desa Wisata Jelok.  Agenda tersebut berjalan lancar tidak ada kendala. Namun sekitar pukul 15.00 Wib, salah satu guru memandu sendiri puluhan siswa menyusuri sungai oya menggunakan 7 perahu, dari sungai Hutan Bunder, Playen.

Namun sampai malam pukul 20.00 Wib tidak juga kembali atau sampai di Desa Wisata Jelok. Pengelola bersama warga akhirnya melakukan pencarian, dan berhasil menemukan puluhan siswa tersebut hingga tengah malam.
"Mereka sempat hilang, tetapi berhasil ditemukan. Kegiatan susur sungai ini ilegal tanpa memberitahu pemandu dan pengelola desa wisata Jelok. Bahkan ambil perahu untuk menyusuri sungai juga tanpa sepengetahuan pemandu," ucap Aziz.

Usai ditemukan puluhan siswa tersebut diantar kembali ke sekolah. (Ded)

http://krjogja.com/read/199023/susur-sungai-38-siswa-sman-1-wonosari-nyaris-hilang.kr

17/12/13

Lestarikan Budaya, Siswa SMKN 1 Wonosari Belajar Membatik

Minggu, 17 November 2013 - 14:41:24 | wahyu-wibowo / Sorot Gunungkidul

Lestarikan Budaya, Siswa SMKN 1 Wonosari Belajar Membatik
Siswa SMKN 1 Wonosari belajar membatik
Wonosari,(sorotgunungkidul.com)--Sebanyak 50 siswa dan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Wonosari mengikuti pelatihan membatik dalam rangka peningkatan, pengembangan dan pelestarian budaya daerah. Acara tersebut digelar di ruang pertemuan SMK N 1 Wonosari, Minggu (17/11/2013).
Dalam kesempatan ini siswa dilatih untuk mendesain sendiri pola batik oleh Komunitas Batik Cangkring, Bansari, Kepek, Wonosari. Hal ini dilakukan agar siswa lebih terampil dalam belajar dan penuh imajinasi dalam berkarya serta peduli serta mau melestarikan batik.
Anggota Pokja kurikulum SMK N 1 Wonosari, Partinah mengatakan, kegiatan ini juga dalam rangka pemanfaatan dana keistimewaan DIY. Beberapa waktu lalu pihak sekolah telah mengajukan dana tersebut melalui proposal yang dikirim ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdipora) Provinsi DIY. Meski dananya belum cair, namun pihak sekolah terlebih dahulu mencukupi dana pelatihan sembari menunggu turunnya dana keistimewaan tersebut. Selain membatik, direncanakan juga akan dilakukan pelatihan pranata adicara.
"Kegiatan ini juga dalam rangka mengisi kegiatan siswa di luar sekolah, terutama pada saat libur. Pasalnya, pada jam sekolah siswa lebih difokuskan dalam kegiatan belajar mengajar," kata Partinah.
Terpisah, Koordinator Daerah (Korda) Forum Keistimewaan untuk Kesejahteraan (FKK ), Aminudin Aziz memaparkan, dengan kegiatan pelatihan batik, siswa - siswi berarti ikut melestarikan seni budaya Yogyakarta. Hal tersebut sejalan dengan visi Keistimewaan Yogyakarta yang harus memiliki spirit, Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keadilan.
"Melalui strategi budaya dengan pelatihan batik tersebut akan membangun karakter anak, dimana pembangunan karakter anak sekarang ini menjadi arus utama dunia pendidikan. Ini juga salah satu upaya pemanfaatan dana keistimewaan," katanya.