Thursday, 02 August 2012
Gemericik alunan irama alur sungai selalu terdengar hingga tengah
dusun.Suasana jalan desa yang selalu diiringi suara jangkrik dan katak
seakan menambah eloknya suasana desa wisata Dusun Jelok,Desa
Beji, Kecamatan Patuk ini.
Jembatan gantung seakan
menjadi sebuah ciri khas dusun yang dulu dianggap terisolir ini.Namun
dengan kekuatan warga masyarakat, dusun yang berada 16 kilometer arah
barat kota Wonosari ini berada tepat di pinggir Sungai Oya. Lima
cottagedengan dimensi rumah Jawa menambah daya tarik wisatawan untuk
berdiam lebih lama,tinggal dan menyatu dengan kehidupan dusun tersebut.
Keramahan warga dusun juga menjadi daya tarik tersendiri.Sebuah
kehidupan warga yang benar-benar masih suci dan ramah menyapa para tamu.
Panorama dengan latar gunung persawahan serta alur Sungai Oya
mengajak para tamu untuk bergumul dan siap mengarungi konsep wisata
baru,menantang,tapi atraktif dan mendidik.Tak heran banyak tamu dari
dalam negeri maupun mancanegara datang langsung dan tinggal untuk
belajar kehidupan masyarakat Jelok. ”Pemandangan bukitnya sangat
eksotis, masyarakatnya juga friendly,”ujar salah satu peserta dialog
antarumat beragama dan suku asal Australia,AnushaYatawara beberapa waktu
lalu,saat mengunjungi desa wisata ini.
Mahasiswi jurusan seni
di Universitas Perth,Australia ini memberikan acungan jempol atas
keindahan alam perbukitan di Gunungkidul yang sangat eksotis.”Kami
sangat menikmati suasana ini,”ucapnya. Belum lagi lantunan gamelan Jawa
yang siap mengiringi santap malam para tamu.Gending cokekan seakan
menjadikan sebuah kidung mesra bagi para wisatawan yang sengaja datang
untuk bisa menikmati suasana desa dan makan malam di pinggir Kali Oya
tersebut.
Berbagai permainan pun disajikan pengelola desa wisata
ini.Mulai outbond, biking,perahu kano,dan penginapan dengan tarif yang
terjangkau.Untuk menginap semalam,pengunjung dikenai tarif Rp200.000.
Dari harga tersebut,para pengunjung sudah disajikan menu
tradisional,permainan desa,serta bersepeda mengelilingi sungai yang
airnya kian jernih ketika musim kemarau ini. Kepenatan kehidupan kota
akan sirna ketika menikmati hari- hari di Dusun Jelok.Kidung mesra di
pinggir kali inilah sebuah terapi keletihan dari hiruk- pikuknya
kehidupan kota.
Kepala Bidang pemasaran dan Promosi Wisata Dinas
Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul Supriyadi
menuturkan,destinasi desa wisata terus dilakukan. Pihaknya sengaja
memberikan ruang bagi desa untuk berkreasi atas potensi wisata yang ada
di desa masing-masing.”Harapan kami,roda perekonomian warga akan
berkembang seiring dengan perkembangan desa wisata ini,”katanya.
Jelok
sebagai salah satu potensi wisata minat khusus telah menjadi salah satu
dari beberapa desa wisata yang siap menyambut wisatawan yang
menginginkan wisata alternatif dan menyegarkan. SUHARJONO Gunungkidul
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/516145/